<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="27138">
 <titleInfo>
  <title></title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Taufiq Ismail</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>DS Moeljanto</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Additional Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Bandung</placeTerm>
   <publisher>Mizan dan HU Republika</publisher>
   <dateIssued>1995</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Printed Book</form>
  <extent>472hlm.:ilus.;23.5cm</extent>
 </physicalDescription>
 <note>Buku yang merekam peristiwa-peristiwa budaya yang sarat dengan muatan politik selama sewindu menjelang G-30-S/PKI 1965 ini tak bisa dipisahkan dari pergulatan antarwartawan. Wartawan tidak hanya menjadi pencatat dan pelapor. Lebih dari itu, wartawan menjadi pelaku utama bersama budayawan dan cendekiawan dalam Prahara Budaya.&#13;
&#13;
Tepatlah bila dikatakan bahwa budayawan, cendekiawan, dan warta­wan adalah three in one. Tak jarang ketiga profesi itu menjelma dalam diri seseorang. Banyak pula yang dua profesi menyatu dalam satu jasad. Yang jelas, ketiga profesi itu bekerja bahu-membahu, saling membantu, dan saling memperkaya.&#13;
&#13;
Buku yang merekam peristiwa-peristiwa budaya yang sarat dengan muatan politik selama sewindu menjelang G-30-S/PKI 1965 ini tak bisa dipisahkan dari pergulatan antarwartawan. Wartawan tidak hanya menjadi pencatat dan pelapor. Lebih dari itu, wartawan menjadi pelaku utama bersama budayawan dan cendekiawan dalam Prahara Budaya.&#13;
&#13;
Tepatlah bila dikatakan bahwa budayawan, cendekiawan, dan warta­wan adalah three in one. Tak jarang ketiga profesi itu menjelma dalam diri seseorang. Banyak pula yang dua profesi menyatu dalam satu jasad. Yang jelas, ketiga profesi itu bekerja bahu-membahu, saling membantu, dan saling memperkaya.&#13;
&#13;
Buku yang merekam peristiwa-peristiwa budaya yang sarat dengan muatan politik selama sewindu menjelang G-30-S/PKI 1965 ini tak bisa dipisahkan dari pergulatan antarwartawan. Wartawan tidak hanya menjadi pencatat dan pelapor. Lebih dari itu, wartawan menjadi pelaku utama bersama budayawan dan cendekiawan dalam Prahara Budaya.&#13;
&#13;
Tepatlah bila dikatakan bahwa budayawan, cendekiawan, dan warta­wan adalah three in one. Tak jarang ketiga profesi itu menjelma dalam diri seseorang. Banyak pula yang dua profesi menyatu dalam satu jasad. Yang jelas, ketiga profesi itu bekerja bahu-membahu, saling membantu, dan saling memperkaya.&#13;
&#13;
Buku yang merekam peristiwa-peristiwa budaya yang sarat dengan muatan politik selama sewindu menjelang G-30-S/PKI 1965 ini tak bisa dipisahkan dari pergulatan antarwartawan. Wartawan tidak hanya menjadi pencatat dan pelapor. Lebih dari itu, wartawan menjadi pelaku utama bersama budayawan dan cendekiawan dalam Prahara Budaya.&#13;
&#13;
Tepatlah bila dikatakan bahwa budayawan, cendekiawan, dan warta­wan adalah three in one. Tak jarang ketiga profesi itu menjelma dalam diri seseorang. Banyak pula yang dua profesi menyatu dalam satu jasad. Yang jelas, ketiga profesi itu bekerja bahu-membahu, saling membantu, dan saling memperkaya.&#13;
&#13;
Buku yang merekam peristiwa-peristiwa budaya yang sarat dengan muatan politik selama sewindu menjelang G-30-S/PKI 1965 ini tak bisa dipisahkan dari pergulatan antarwartawan. Wartawan tidak hanya menjadi pencatat dan pelapor. Lebih dari itu, wartawan menjadi pelaku utama bersama budayawan dan cendekiawan dalam Prahara Budaya.</note>
 <note type="statement of responsibility">Ismail,Taufiq</note>
 <subject authority="">
  <topic>SEJARAH-INDONESIA-PDA-PERIODE-TAHUN-1960-1968</topic>
 </subject>
 <classification>959.8036</classification>
 <identifier type="isbn">9794330647</identifier>
 <location>
  <physicalLocation>PERPUSTAKAAN SIT BBS KOTA BOGOR SIT BBS KOTA BOGOR</physicalLocation>
  <shelfLocator>959.8036 MOE p</shelfLocator>
  <holdingSimple>
   <copyInformation>
    <numerationAndChronology type="1">B007398</numerationAndChronology>
    <sublocation>SMP NEGERI 1 BOGOR (900-999)</sublocation>
    <shelfLocator>959.8036 MOE p</shelfLocator>
   </copyInformation>
  </holdingSimple>
 </location>
 <slims:image>prahara_budaya.jpg.jpg</slims:image>
 <recordInfo>
  <recordIdentifier>27138</recordIdentifier>
  <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2014-04-16 10:55:54</recordCreationDate>
  <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2019-02-12 13:42:29</recordChangeDate>
  <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
 </recordInfo>
</mods>
</modsCollection>